
Condong adalah tarian Bali yang sering dipentaskan sebagai pendahuluan untuk legong dan diiringi oleh semar pegulingan . Istilah ini juga merujuk ke karakter fiksi, representasi klasik pelayan wanita, yang ada Cdi dalam tari condong, seperti tari legong, gambuh, dan arja.
Tari condong berasal dari istana di Bali pada pertengahan abad ke-19. Penciptanya tidak diketahui, tetapi sejarah rakyat mengacu bahwa ada pangeran dari Sukawati sakit parah mendapat penglihatan dua gadis cantik menari dengan anggun ditemani musik gamelan setelah sehat kembali, pangeran ini mereka ulang tarian yang dia pernah lihat. Tarian ini awalnya menceritakan kisah dua bidadari bernama Supraba dan Wilotama. Semenjak dekade 1930-an, cerita diubah menjadi seorang raja atau ratu.
Pada pertunjukan modern, penari condong memainkan peran subjek. Koreografer Ni Ketut Arini menggambarkan penari condong sebagai potret seorang pelayan istana yang melayani raja, serta kagum akan kuasanya dan kecantikan putri sang raja.
Banyak gerakan yang merupakan versi sderhana dari tari legong yang beraneka ragam dan memang condong dimasukkan ke dalam tari Bali dasar, juga dipelajari oleh anak-anak.
Ada beberapa usaha untuk mempertahankan tari condong di Bali. Salah satu usahanya adalah penyelanggaraan kompetisi untuk anak-anak yang melakukan tarian untuk nilai. Gerakan-gerakan tari condong telah diadaptasi menjadi kreasi seni yang lebih kekinian, termasuk panyembrama (I Wayan Berata; 1971), yang juga termasuk gerakan-gerakan legong.

Leave a comment